Sejarah Lengkap Kabupaten Garut

3 min read

Informasi seputar Garut sangatlah kaya dengan sejarah panjang yang sangat penting untuk diketahui, khususnya bagi warga masyarakat Garut. Mulai itu dari asal usul nama Garut, hingga pro kontra kapan hari Jadi Garut yang sebenarnya.

Dari Limbangan ke Garut

Sejarah Lengkap Kabupaten Garut tidak terlepas dari berawalnya pembubaran Kabupaten Limbangan pada tahun 1811 oleh Daendels.

Pembubaran ini dengan dalil bahwa buatan kopi dari wilayah Limbangan menurun, sampai-sampai ke titik sangat rendah nol. Tidak melulu itu, juga diakibatkan upatinya menampik perintah menempatkan nila (indigo).

Nah, pada tanggal 16 Februari 1813, Letnan Gubernur ketika itu, Raffles, menerbitkan SK mengenai pembentukan kembalinya Kabupaten Limbangan, dimana wilayah Suci (saat ini) sebagai Ibu Kotanya.

Sayang, guna ukuran suatu ibu kota Kabupaten, eksistensi Suci dinilai tidak mengisi syarat. Karena wilayah Suci kawasannya lumayan sempit.

Akhirnya, Bupati Limbangan ketika itu, Adipati Adiwijaya (1813-1831) menyusun panitia eksklusif untuk menggali tempat yang cocok untuk Ibu Kota Kabupaten.

Awalnya, panitia eksklusif menemukan wilayah Cimurah (baca: kini nama Kampung Pidayeuheun), selama 3 Km sebelah Timur Suci.

Namun, sulitnya air bersih mengurungkan niat guna menjadikan Cimurah sebagai ibu kota.

Selanjutnya, panitia mencari tempat ke arah Barat Suci, selama 5 Km dan mendapatkan lokasi yang sesuai untuk dijadikan Ibu Kota.

Di samping tanahnya subur, wilayah Suci mempunyai mata air yang mengalir hingga ke Sungai Cimanuk. Juga diperbanyak pemandangannya yang estetis dimana dikelilingi oleh gunung, seperti:

  • Gunung Cikuray
  • Gunung Papandayan
  • Gunung Guntur
  • Gunung Galunggung
  • Gunung Talaga Bodas
  • Gunung Karacak

Asal Usul Nama Garut

Saat ditemukan sumber mata air berupa danau kecil, dimana tertutup oleh semak belukar berduri (Marantha), seorang panitia kakarut (sunda) / tergores tangannya hingga berdarah.

Dalam regu panitia, turut pula seorang kewarganegaraan Eropa yang ikut ngabaladah lokasi tersebut.

Begitu menyaksikan tangan salah seorang panitia itu berdarah, langsung bertanya : “Mengapa berdarah?”

Orang yang tergores tersebut menjawab, tangannya kakarut. Orang Belanda itu menirukan kata kakarut dengan lidah yang tidak lancar sehingga sebutannya menjadi “gagarut”.

Sejak itulah, semua pekerja dalam regu panitia menamai tumbuhan berduri dengan sebutan Ki Garut dan telaganya dinamai Ci Garut. (Lokasi danau ini kini ditempati oleh bangunan SMPN 1, SMPN 2, dan SMPN 4 Garut).

Dengan ditemukannya danau Ci Garut, maka wilayah sekitar tersebut dikenal dengan nama Garut.

Sebutan nama Garut juga direstui oleh Bupati Kabupaten Limbangan, Adipati Adiwijaya guna dijadikan sebagai Ibu Kota Kabupaten Limbangan.

Tanggal 15 September 1813, peletakkan batu kesatudimulai guna pembangunan sarana dan prasarana ibukota, laksana tempat tinggal, pendopo, kantor asisten residen, Masjid Agung Garut, dan Alun-alun Garut.

Di depan pendopo, salah satu alun-alun dengan pendopo ada Babancong.

Babancaong adalahtempat Bupati beserta pejabat pemerintahan lainnya untuk mengucapkan pidato di depan publik.

Setelah tempat-tempat tersebut berlalu dibangun, Ibu Kota Kabupaten Limbangan pindah dari Suci ke Garut selama Tahun 1821.

Sesuai dengan SK Gubernur Jenderal No:60/7 Mei 1913, Kabupaten Limbangan diganti menjadi Kabupaten Garut dan beribu kota Garut pada tanggal 1 Juli 1913.

Pada masa-masa itu, Bupati yang sedang menjabat ialah RAA Wiratanudatar (1871-1915). Garut yang pada saat tersebut meliputi 3 desa; Kota Kulon, Kota Wetan, dan Margawati.

Kabupaten Garut sendiri mencakup Distrik-distrik Garut:

  • Bayongbong
  • Cibatu
  • Tarogong
  • Leles
  • Balubur Limbangan
  • Cikajang
  • Bungbulang
  • Pameungpeuk.

Pada tahun 1915, RAA Wiratanudatar digantikan oleh keponakannya sendiri yakni Adipati Suria Karta Legawa (1915-1929).

Tepatnya tanggal 14 Agustus 1925, sesuai dengan keputusan Gubernur Jenderal, Kabupaten Garut diabsahkan menjadi wilayah pemerintahan yang berdiri sendiri (otonom).

Wewenang yang mempunyai sifat otonom berhak dijalankan oleh Kabupaten Garut dalam sejumlah hal, yakni bersangkutan dengan masalah pemeliharaan jalan-jalan, jembatan-jembatan, kebersihan, dan poliklinik.

Selama periode 1930-1942, Bupati yang menjabat di Kabupaten Garut ialah Adipati Moh. Musa Suria Kartalegawa.

Beliau diusung menjadi Bupati Kabupaten Garut pada tahun 1929 menggantikan ayahnya Adipati Suria Karta Legawa (1915-1929).

Perkembangan Fisik Tata Kota Garut

Sampai tahun 1960-an, perkembangan jasmani Kota Garut dipecah menjadi 3 periode:

Periode kesatu (1813-1920) berkembang secara linear.

Pada masa tersebut di Kota Garut tidak sedikit didirikan bangunan oleh Pemerintah Kolonial Belanda guna kepentingan pemerintahan, mengerjakan investasi dalam usaha perkebunan, ekskavasi sumber mineral dan objek wisata.

Pembangunan pemukiman penduduk, khususnya disekitar alun-alun dan memanjang ke arah Timur sepanjang jalan Societeit Straat.

Periode ke-2: (1920-1940) – Konsentris

Perubahan konsentris terjadi sebab pada periode ini diserahkan proyek pelayanan untuk penduduk.

Wajah tatakota Garut mulai berubah, ini terlihat dengan berdirinya sejumlah fasilitas yang ada kota, misalnya stasiun kereta api, kantor pos, apotek, sekolah, hotel, pertokoan (milik orang Cina, Jepang, India dan Eropa) serta pasar kegiatan event indonesia.

Periode ketiga (1940-1960-an), pertumbuhan Kota Garut ingin mengikuti teori inti berganda.

Perkembangan ini dapat dilihat pada zona-zona perdagangan, pendidikan, pemukiman dan perkembangan penduduk.

Keadaan Umum Kota Garut

Pada mula abad ke-20, Kota Garut mengacu pada pola masyarakat yang heterogen sebagai dampak arus urbanisasi.

Keanekaragaman masyarakat dan perkembangan Kota Garut erat kaitannya dengan usaha-usaha perkebunan dan objek wisata di wilayah Garut.

Orang Belanda yang berjasa dalam pembangunan perkebunan dan pertanian di wilayah Garut ialah K.F Holle.

Untuk mengenang jasa dan tercatat dalam sejarah, pemerintah Kolonial Belanda saat itu mengabadikan nama Holle menjadi suatu jalan di Kota Garut, Jalan Mandalagiridan menciptakan patung separuh dada Holle di Alun-alun Garut.

Pembukaan perkebunan-perkebunan tersebut dibuntuti pula dengan pembangunan hotel-hotel pada tahun 1917.

Hotel-hotel itu adalahtempat menginap dan hiburan untuk para pegawai perkebunan atau wisatawan yang datang dari luar negeri.

Hotel-hotel di Kota Garut ketika itu, yakni Hotel Papandayan, Hotel Villa Dolce, Hotell Belvedere, dan Hotel Van Hengel.

Ada juga hotel di luar wilayah Garut Kota, misalnya Hotel Ngamplang yang berada di Cilawu, Hotel Bagendit di Banyuresmi, Hotel Cisurupan (Cisurupan), Hotel Melayu (Tarogong), , Hotel Kamojang (Samarang) dan Hotel Cilauteureun yang berada di Pameungpeuk.

Berita mengenai Indahnya Kota Garut tersebar ke semua dunia, yang menjadikan Kota Garut sebagai lokasi pariwisata.

Hari Jadi Garut Kapan?

Maka, sepakat masyarakat Garut bahwa Hari Jadi Garut (HJG) bukan jatuh pada tanggal 17 Mei 1913 dimana ketika itu penggantian nama Kab. Limbangan menjadi Kabupaten Garut.

Tetapi, pada saat area kota Garut mulai dimulai dan di bina kembali sarana prasarana sebagai persiapan menjadi ibukota Kabupaten Limbangan.

Maka, semenjak tahun 1963 Hari Jadi Garut diperingati setiap tanggal 15 September menurut temuan oleh Tim Pencari Fakta Sejarah, dimana mengacu tanggal 15 September 1813 itu pada artikel yang tercantum di jembatan Leuwidaun sebelum direnovasi.

Namun, kepercayaan masyarakat terhadap dasar pemungutan hari jadi Garut juga berubah.

Dalam PERDA Kabupaten Garut No. 30 Tahun 2011 mengenai Hari Jadi Garut, ditetapkan bahwa Hari Jadi Garut di anggap lebih tepat pada tanggal 16 Februari 1813.

Penelusuran hari jadi Garut berpijak pada pertanyaan kapan kesatu kali hadir istilah “Garut”.

Ungkapan tersebut muncul ketika “ngabaladah” dalam menggali tempat guna ibukota Kabupaten Limbangan yang diperintahkan R.A.A Adiwijaya sebagai Bupati yang dilantik pada tanggal 16 Februari 1813.

Fakta mengenai Jembatan Leuwidaun yang peletakkan batu kesatunya ialah tanggal 15 September 1918 pun tetap diperhitungkan.

Dengan demikian, asal mula terlahir kata “Garut” ialah diyakini berada pada suatu hari antara 16 Februari 1813 s.d. 15 September 1918. (sumber artikel: https://www.garutkab.go.id/page/sejarah-singkat

× BISA KAMI BANTU?